Epidemiologi
Kusta tersebar diseluruh dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis. Kusta dapat menyerang pada semua usia, meskipun lebih sering terjadi pada mereka yang berusia antara 30 hingga 50 tahun. Kusta juga lebih sering mengenai laki-laki dibandingkan perempuan. Berdasarkan laporan Direktorat Jendral (Ditjen) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013, angka kejadian penyakit kusta tertinggi dilaporkan dari Provinsi Jawa Tengah yaitu sebanyak 4.132 kasus; Provinsi Bagian Barat sebanyak 2.180 kasus; dan Papua sebanyak 1.765 kasus. Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa Provinsi dengan proporsi kusta terbanyak adalah jenis kelamin Laki-laki yang berasal dari Jawa Timur (23,25%), Jawa Barat (13,5%) dan Jawa Tengah (10,82%) (Agustina, 2024)
Patogenesis
M. leprae mempunyai patogenitas dan daya invasi yang rendah, sebab penderita yang mengandung kuman lebih banyak belum tentu memberikan gejala yang lebih berat, bahkan dapat sebaliknya. Basil kusta masuk ke tubuh manusia melalui kontak langsung dengan kulit atau mukosa nasal yang berasal dari droplet. Basil dari droplet akan bertahan hidup selama 2 hari dalam lingkungan yang kering, bahkan hingga 10 hari pada lingkungan yang lembab dan suhu yang rendah. Setelah infeksi terjadi, gejala klinis pada saraf perifer atau kulit akan muncul dalam waktu 3 bulan hingga 10 tahun. Gejala klinis yang timbul bervariasi, bergantung pada sistem imunitas selular (SIS) penderita. Bila SIS baik, akan tampak gambaran klinis ke arah tuberkuloid, sebaliknya bila SIS rendah memberikan gambaran lepromatosa (Menaldi, 2019)
Manifestasi klinis
Manifestasi klinis lepra (Menaldi, 2019)
- Kelainan pada kulit:
Kelainan kulit dapat berbentuk makula atau bercak hipopigmentasi dengan hilangnya rasa raba (anestesi), atau makula hipopigmentasi disertai tepi yang menimbul dan sedikit eritementosa, atau berupa plak eritematosa, atau dapat pula berbentuk papul dan nodul. Kelainan kulit ini menyerupai berbagai penyakit kulit lain, sehingga adanya gangguan sensibilitas berupa anestesi atau hipoestesi sangat membantu dalam menegakkan diagnosis kusta. - Saraf perifer:
Gejala neurologis yang umum muncul adalah kerusakan saraf perifer yang memperparah lesi kulit, terutama pada serabut dan trunkus saraf. Gejala klinis kerusakan saraf perifer dapat diklasifikasikan lebih lanjut menjadi gangguan sensorik, gangguan motorik, dan gangguan otonom. Gangguan ini dapat terjadi pada saraf perifer di ekstremitas maupun saraf kranial. - Mata :
Mata dapat mengalami kerusakan akibat penyakit kusta. Kerusakan dapat terjadi di ekstraokuler maupun intraokuler. Kerusakan intraokular terdiri dari episkleritis, skleritis, keratitis, ulkus kornea, serta penurunan sensibilitas kornea. Sedangkan kerusakan ekstraokuler dapat terjadi madarosis, lagoftalmus, dakriosistisis, serta mata kering. Kerusakan mata terus berjalan meskipun pengobatan lepra sudah tuntas. - Gangguan psikiatrik :
Kusta merupakan penyakit fisik yang sangat erat hubungannya dengan dampak psikososial yang dialami oleh pasien. Deformitas dan stigma yang terkandung pada penyakit ini yang membuat kehidupan bagi penderita kusta menjadi semakin sulit. Tidak jarang pasien akan mengalami perceraian, kehilangan pekerjaan, atau bahkan dijauhi oleh lingkungannya karena ketakutan akan gambaran penularan penyakit tersebut.
Penatalaksanaan
- Tatalaksana Farmakologis (Menaldi, 2019)
Tatalaksana farmakologis lepra bertujuan untuk membunuh Mycobacterium leprae, mencegah resistensi obat, dan mengurangi risiko komplikasi. Pengobatan utama dilakukan dengan Multi Drug Therapy (MDT) yang diklasifikasikan berdasarkan jenis lepra. Untuk kusta pausibasiler (PB), diberikan kombinasi rifampisin 600 mg sebulan sekali dan dapsone 100 mg setiap hari selama 6 bulan. Sedangkan untuk kusta multibasiler (MB), diberikan rifampisin 600 mg dan clofazimin 300 mg sebulan sekali, serta dapsone 100 mg dan clofazimin 50 mg setiap hari selama 12 bulan. Pada pasien dengan kondisi khusus, seperti intoleransi terhadap obat atau kasus resistensi, digunakan rejimen alternatif. Selain itu, reaksi kusta tipe 1 dan 2 ditangani dengan kortikosteroid seperti prednison, sedangkan talidomid digunakan khusus untuk reaksi tipe 2 berat. Untuk nyeri neuropatik yang sering terjadi, terapi menggunakan analgetik seperti amitriptilin, gabapentin, atau karbamazepin disesuaikan dengan intensitas dan sifat nyeri yang dialami pasien. - Tatalaksana Non Farmakologis (Menaldi, 2019)
Pendekatan non farmakologis dalam penanganan kusta difokuskan pada rehabilitasi medis, edukasi pasien, serta pencegahan disabilitas dan komplikasi jangka panjang. Rehabilitasi medik dimulai dengan konseling dan edukasi mengenai penyakit dan perawatan diri, termasuk perawatan luka, perlindungan ekstremitas yang mati rasa, serta pentingnya kepatuhan terapi. Terapi latihan dilakukan untuk mempertahankan kekuatan otot dan mobilitas sendi, terutama pada pasien dengan gangguan saraf perifer. Selain itu, penggunaan alat bantu seperti ortosis, prostesis, dan sepatu khusus bertujuan mencegah ulkus berulang dan memperbaiki fungsi ekstremitas. Penanganan aspek psikososial juga penting, mengingat stigma sosial terhadap pasien kusta masih tinggi. Jika terjadi deformitas berat atau komplikasi ortopedi, tindakan bedah dapat dipertimbangkan, seperti perbaikan kontraktur, transplantasi saraf, atau koreksi kelainan bentuk tangan dan kaki
Sumber:
Agustina, S., Dewi, F. Y., Yulita, A. A. 2024. Celah atau Kesalahan dalam Diagnostik dan Terapi Kusta. JUSINDO, Vol 6(1) : 359-368
Bhandari, J., Awais, M., Robbins, B. A., Gupta, V. 2023. Kusta. Treasure Island : Statpearls Publishing
Menaldi, S. L., et al. 2019. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran : Tatalaksana Kusta. Jakarta : KEMENKES
