Etiologi

Rubella (German measles) adalah penyakit ringan yang menyerang anak-anak namun merupakan ancaman yang serius untuk janin, jika ibu mendapatkan infeksi pada masa kehamilan. Penyebab atau agen infeksi rubella adalah virus Rubella, yaitu virus tipe RNA yang merupakan genus dari Rubivirus dan famili Togaviridae. Manusia adalah satu-satunya inang dari virus rubella, yang disebarkan baik melalui oral droplet atau transplasental kepada janin, yang menyebabkan infeksi kongenital

Epidemiologi

Lebih dari 20.000 bayi dilahirkan dengan kelainan sewaktu terjadinya KLB rubella pada tahun 1964-1965 (Amerika Serikat). Sebelum dilakukannya vaksinasi terhadap rubella tahun 1969, pandemic rubella terjadi setiap 6-9 tahun, yang puncaknya terjadi pada musim semi. Sejak tahun 1969, ketika vaksin untuk rubella dilakukan, anak-anak secara rutin divaksinasi, membantu mencegah penyebaran penyakit ke ibu hamil yang rentan. Karena luasnya penggunaan vaksin, kelainan bayi baru lahir yang disebabkan oleh rubella menjadi jarang

Di  Indonesia,  rubella  merupakah  salah  satu  masalah  kesehatan  masyarakat  yang memerlukan   upaya   pencegahan   efektif.   Data   surveilans   selama   lima   tahun   terakhir menunjukan   70%   kasus   rubella   terjadi   pada   kelompok usia <15 tahun. Selain itu berdasarkan  studi  tentang  estimasi  beban  penyakit, Congenital Rubella Syndrome (CRS) di  Indonesia  pada  tahun  2013 diperkirakan  terdapat  2767  kasus  CRS,  82/100.000  terjadi  pada  usia  ibu  15-19  tahun  dan menurun menjadi 47/100.000 pada usia ibu 40-44 tahun

Patofisiologi

Manusia merupakan satu-satunya reservoir rubella yang diketahui. Virus ini ditularkan melalui kontak antarmanusia melalui droplet dan partikel aerosol dari sekresi saluran pernapasan individu yang terinfeksi. Setelah menginfeksi sel-sel inang yang rentan melalui endositosis yang dimediasi reseptor, rubella bereplikasi di dalam sel-sel nasofaring dan kemudian menyebar ke jaringan limfoid regional nasofaring dan saluran pernapasan atas. Proses ini diikuti oleh fase viremia, yang ditandai dengan penyebaran virus secara hematogen ke berbagai organ, biasanya terjadi 5 hingga 7 hari setelah inokulasi

Eksantema muncul sekitar 2 hingga 8 hari setelah timbulnya viremia dan sembuh 3 hari kemudian seiring dengan berkembangnya respons imun humoral. Individu yang terinfeksi menular dari 8 hari sebelum hingga 8 hari setelah timbulnya ruam. Pada CRS, infeksi janin terjadi secara transplasenta selama fase viremia maternal. Risiko penularan bergantung pada waktu infeksi maternal; jika rubella terjadi sebelum usia kehamilan 10 minggu, berisiko 90% janin dapat mengalami cacat. Risiko menurun secara signifikan dengan infeksi di kemudian hari dalam kehamilan. Kerusakan janin dapat disebabkan oleh beberapa mekanisme, termasuk nekrosis epitel vili korionik, apoptosis sel yang terinfeksi akibat kerusakan virus langsung, penghambatan mitosis melalui gangguan perakitan aktin intraseluler, perkembangan sel prekursor yang terbatas, peningkatan aktivitas sitokin dan interferon, dan kerusakan vaskular yang menyebabkan iskemia organ

Manifestasi Klinis

Virus Rubella memiliki masa inkubasi 14-21 hari. Pada fase prodromal terjadi inflamasi ringan mukosa mulut atau hidung sehingga menyebabkan meningkatnya aliran mukus tetapi gejalanya sangat ringan sehingga tidak terdeteksi. Sekitar dua pertiga infeksi virus ini bersifat subklinis. Tanda yang paling khas adalah limfadenopati di retroaurikuler, cervical posterior, dan postoccipital. Enantema berupa bercak berwarna merah di palatum mole (Forcheimer spots) muncul pada 20% pasien sebelum terjadinya bercak kulit. Limfadenopati muncul kurang lebih 24 jam sebelum bercak kulit muncul dan berlangsung selama 1 minggu atau lebih. Eksantema yang muncul lebih bervariasi dimulai dari bagian wajah dan menyebar secara cepat. Bercak makulopapular muncul dalam jumlah yang banyak, juga terdapat area flushing yang luas yang menyebar secara cepat ke seluruh tubuh, biasanya dalam 24 waktu jam. Rasa gatal ringan pada kulit dapat timbul

Pada anak gadis dan wanita, poliartritis dapat muncul dengan artralgia, pembengkakan, dan efusi tapi biasanya tanpa adanya residuum. Dampak kelainan kongenital setelah kelahiran terutama dapat berupa katarak mata atau strabismus, kelainan jantung dan tuli. Biasanya anak lahir dengan berat badan rendah, trombositopeni, purpura, mikroftalmi, glaukoma, kornea yang keruh, retinopati pigmentosa, tuli dan gambaran radioulsen pada tulang. Gejala-gejala yang agak khas tersebut dalam infeksi virus Rubella disatukan sebagai Sindrom Rubella

Tatalaksana dan Pencegahan

Tidak ada terapi antiviral spesifik, pengobatan hanya bersifat suportif. Antipiretik (acetaminophen atau ibuprofen) diberikan jika demam. Imunisasi rubella, biasanya disebut measles-mumps-rubella (MMR), direkomendasikan pada usia 12-15 bulan. Imunisasi kedua, diberikan secara rutin pada usia 4-6 tahun tapi dapat diberi pada usia berapapun dengan senggang waktu 4 minggu dari imunisasi sebelumnya. Anak-anak yang tidak mendapat imunisasi kedua seharusnya diimunisasi pada usia 11-12 tahun, terutama pada anak perempuan harus mempunyai kekebalan terhadap rubella sebelum mencapai usia subur. Wanita hamil tidak boleh diberikan vaksin dari virus rubella hidup, dan harus menghindari kehamilan untuk 3 bulan setelah mereka mendapatkan vaksin

Sumber

Leonor, M.C., Afzal, M., Mendez, M.D. 2025. Rubella. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing

Pelupessy, T.E., Asmin, E. 2022. Komunikasi, informasi dan edukasi mengenai imunisasi lanjutan campak rubella di puskesmas karang panjang ambon. J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Vol. 2(6): 5265-5270.

Soegijanto, S. 2016. Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi di Indonesia Jilid 6. Surabaya: Airlangga University Press

Shares:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *