Definisi
Filariasis merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing Filaria dan menyerang saluran limfe serta kelenjar getah bening, sehingga dapat menyebabkan gejalah akut dan kronis, yang ditularkan berbagai jenis nyamuk. Filariasis limfatik merupakan bentuk paling umum yang disebabkan terutama oleh Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, atau Brugia timori.
Epidemiologi
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 36 juta orang mengalami gejala filariasis, 25 juta pria di antaranya mengalami hidrokel dan lebih dari 15 juta orang dengan limfedema. Meskipun banyak negara telah mengeliminasi filariasis, lebih dari 657 juta orang di 39 negara tetap berisiko terinfeksi. Di Indonesia, 70% kasus filariasis disebabkan oleh Brugia malayi. Pada tahun 2017 Provinsi dengan jumlah kabupaten/kota endemis filariasis terbanyak yaitu Provinsi Papua, dilanjutkan provinsi Nusa Tenggara Timur, dan terbanyak ketiga yaitu Provinsi Aceh, Sulawesi Tenggara, dan Papua Barat. Tercatat terdapat 10.681 kasus filariasis pada tahun 2018 di seluruh Indonesia. Sebanyak 236 dari 514 kabupaten dinyatakan sebagai daerah endemis.
Etiologi
Limfatik filariasis disebabkan oleh infeksi parasit yang termasuk dalam golongan nematoda dari famili Filarioidea. Terdapat tiga jenis cacing filaria berbentuk halus dan menyerupai benang yang menjadi penyebab penyakit ini, yaitu Wuchereria bancrofti yang bertanggung jawab atas sekitar 90% kasus, Brugia malayi yang menyebabkan sebagian besar kasus lainnya, serta Brugia timori
Patogenesis
Patogenesis filariasis melibatkan siklus hidup cacing filaria dan respon imun tubuh terhadapnya. Saat nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia, larva tahap infektif (L3 larvae) ditransmisikan ke dalam jaringan kulit, kemudian bermigrasi ke sistem limfatik dan berkembang menjadi cacing dewasa dalam 6–12 bulan. Cacing dewasa dapat hidup lebih dari 5–7 tahun dalam pembuluh limfe, melepaskan mikrofilaria ke dalam sirkulasi darah perifer. Reaksi imun terhadap cacing dan antigen yang dilepaskan memicu inflamasi, proliferasi endotel limfatik, serta fibrosis jaringan. Infeksi berulang menyebabkan obstruksi progresif pembuluh limfe, limfangiektasia, dan akhirnya penumpukan cairan limfe pada jaringan (limfedema). Selain itu, infeksi bakteri sekunder memperburuk kerusakan jaringan dan mempercepat perkembangan elephantiasis
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis filariasis limfatik terbagi menjadi tiga tahap, yaitu :
- Tahap asimptomatik: penderita tidak menunjukkan gejala luar, namun parasit tetap aktif di dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan pada sistem limfatik serta ginjal.
- Tahap akut: ditandai oleh peradangan pada kulit, kelenjar getah bening, dan pembuluh limfatik. Kondisi ini dapat disebabkan oleh reaksi imun tubuh terhadap parasit atau infeksi bakteri sekunder akibat kerusakan sistem limfatik, menimbulkan nyeri, bengkak, dan kemerahan.
- Tahap kronis: muncul akibat infeksi yang berlangsung lama dan menyebabkan kerusakan permanen pada sistem limfatik. Gejalanya meliputi limfedema, elephantiasis, dan hidrokel, disertai kemungkinan pembengkakan pada payudara atau organ genital lain. Kondisi ini sering menimbulkan stigma sosial, gangguan psikologis, serta beban ekonomi bagi penderita
Tatalaksana
Penatalaksanaan filariasis limfatik bertujuan untuk membasmi parasit penyebab penyakit, menurunkan mikrofilaria dalam darah, serta mencegah terjadinya komplikasi dan transmisi lebih lanjut. Pemilihan terapi disesuaikan dengan jenis infeksi, baik monoinfeksi maupun koinfeksi
Monoinfeksi:
Obat utama adalah dietilkarbamazin (DEC) dengan dosis yang direkomendasikan adalah 6 mg/kgBB/hari dapat diberikan sebagai dosis tunggal atau dibagi menjadi tiga dosis per hari selama 12 hari. Pada kasus eosinofilia pulmoner tropis, pengobatan diperpanjang hingga 14–21 hari. Jika DEC tidak tersedia atau kontraindikasi, digunakan doxycycline yang bekerja dengan menargetkan bakteri Wolbachia pada cacing filaria. Bila doxycycline tidak dapat diberikan, dapat digunakan albendazole, dengan atau tanpa kombinasi ivermectin, untuk meningkatkan efek penekanan mikrofilaria
Koinfeksi:
Pada pasien dengan koinfeksi filariasis limfatik dan onchocerciasis, terapi lini pertama meliputi kombinasi doxycycline 200 mg per oral sekali sehari selama 6 minggu dengan ivermectin 150 µg/kg dosis tunggal. Kombinasi ini tidak hanya menurunkan jumlah mikrofilaria, tetapi juga menghambat reproduksi cacing dewasa. Alternatif lain yang dapat diberikan meliputi kombinasi ivermectin dan albendazole, moxidectin dan albendazole, atau terapi tunggal doxycycline. Sementara itu, pada pasien dengan koinfeksi filariasis limfatik dan loiasis, tata laksana mengikuti regimen pengobatan untuk loiasis monoinfeksi, karena terapi yang tidak tepat dapat menimbulkan reaksi inflamasi berat akibat kematian mikrofilaria secara mendadak
Sumber
Ate, A. M., Hinga, I. A. T. & Purnawan, S. 2023. Gambaran Faktor Lingkungan Fisik, Sosial, Budaya terhadap Kejadian Filariasis di Puskesmas Tenateke. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia, 6 (2): 272-8.
CDC. 2024. Treatment of Lymphatic Filariasis. Centers for Disease Control and Prevention. Available at: https://www.cdc.gov
Goldin, J. & Juergens, A. L. 2025. Filariasis. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing
WHO. 2023a. Lymphatic Filariasis. World Health Organization – Neglected Tropical Diseases. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/lymphatic-filariasis
WHO. 2023b. Providing Evidence-Based Guidance to Countries for Lymphatic Filariasis. Geneva: World Health Organization. Available at: https://www.who.int/activities/providing-evidence-based-guidance-to-countries-for-lymphatic-filariasis
