ETIOLOGI
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue (Dengue virus / DENV) dan disebarkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
EPIDEMIOLOGI
Insidensi dengue secara global mengalami peningkatan dalam dua dekade terakhir dimana yang awalnya 500.000 di tahun 2000 meningkat hingga 5,2 juta di tahun 2019. Sementara itu pada Asia Tenggara, seluruh negara kecuali Korea merupakan negara endemis dengue dengan 5 negara didalamnya termasuk India, Indonesia, Myanmar, Sri Lanka dan Thailand merupakan negara dengan endemis dengue tertinggi di Dunia. Tercatat dari tahun 2015 hingga 2019 kejadian dengue di Asia Tenggara meningkat hingga 46% (451.442 menjadi 658.301). Di Indonesia sendiri, tercatat pada akhir tahun 2022 bahwa jumlah kasus dengue di Indonesia mencapai 143.000 kasus, dengan angka kejadian dengue terbanyak berada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
PATOGENESIS
Patogenesis dengue dipengaruhi oleh faktor virus dan faktor inang yang masih belum sepenuhnya dipahami. Dengue berat dapat terjadi pada individu yang mengalami infeksi sekunder dengan strain DENV/dengue virus heterotipik (serotipe berbeda) dan pada bayi yang lahir dari ibu dengan imunitas dengue, yang memiliki respons antibodi anti-DENV primer. Fenomena ini dikenal sebagai Antibody-Dependent Enhancement (ADE), dan dapat dijelaskan oleh dua proses yang terjadi secara bersamaan:
1. Selama infeksi primer, tubuh menghasilkan antibodi yang reaktif silang terhadap serotipe lain dan memiliki daya netralisasi rendah (sub-netralisasi).
2. Saat terjadi infeksi sekunder dengan serotipe yang berbeda, antibodi dari infeksi pertama tersebut justru membantu virus DENV masuk ke sel target melalui reseptor Fc gamma (FcγR), meningkatkan infektivitas virus.
MANIFESTASI KLINIS & PERJALANAN PENYAKIT
Pada perjalan demam dengue terdapat 3 fase yang akan dilewati yakni fase febris, kritis, dan pemulihan. Pada fase febris, terjadi peningkatan suhu yang tinggi hingga 40℃ yang biasanya muncul 2 hingga 7 hari. Beberapa gejala yang mungkin muncul dapat berupa adanya eritema pada kulit, nyeri otot, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, injeksi konjungtiva, mual, muntah serta sulit makan
Pada fase kritis umumnya ditandai dengan adanya penurunan suhu tubuh hingga 37,5-38℃ atau kurang dan tetap di bawah level ini, dan umumnya terjadi pada hari ke 3-7 perjalanan penyakit. Fase ini disebut sebagai fase kritis karena pada fase ini biasanya terjadi adanya kebocoran plasma yang biasa berlangsung selama 24-48 jam. Pada fase ini penderita biasanya menunjukkan adanya perbaikan klinis, namun penderita juga memiliki risiko terjadinya manifestasi berat akibat kebocoran plasma. Pada periode ini penting sekali memantau timbulnya pendarahan dan kebocoran plasma, menerapkan terapi yang tepat, dan menstabilkan volume cairan dalam tubuh

PENATALAKSANAAN

Awalnya diperlukan pemantauan apakah terdapat tanda kedaruratan ( warning signs), bila tidak ada tanda kedaruratan penatalaksanaan dapat dilakukan berupa tirah baring selama demam, pemberian antipiretik, kompres hangat, dan memperbanyak intake cairan. Penatalaksanaan farmakologi pada penderita demam dengue adalah pemberian obat obatan simtomatik, seperti antipiretik untuk demam, antiemetik untuk mual dan muntah, juga dapat diberikan anti nyeri untuk membantu meredakan nyeri kepala juga nyeri sendi otot.
SUMBER
Harapan, H., et al. 2020. Dengue: A Minireview. Viruses. Vol. 12 (829). From: www.mdpi.com/journal/viruses
Menkes. 2021. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Infeksi Dengue Anak Dan Remaja. Jakarta: Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nicodemus. Yogi P. 2023. Laporan kasus berbasis bukti Hiperferitinemia pada Demam Berdarah Dengue. Sari Pediatri. Vol. 24 (6): 14-24.
Winata, A. A., Dian, I. A. 2024. Penatalaksanaan pada Nn. I Usia 21 Tahun dengan Demam Dengue Melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga di Puskesmas Kedaton Bandar Lampung. Medula. Vol. 14 (7): 1357- 1364.
